PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA METODE DDD PADA PASIEN RAWAT INAP DI PAVILIUN DEWASA RS X (JANUARI–JUNI 2024)
DOI:
https://doi.org/10.47219/ath.v10i2.592Keywords:
Antibiotik, DDD, Resistensi AntimikrobaAbstract
Penggunaan antibiotika secara tepat merupakan aspek krusial dalam upaya menekan peningkatan resistensi antimikroba di fasilitas pelayanan kesehatan. Studi ini bertujuan mengevaluasi besaran konsumsi antibiotik menggunakan indikator Defined Daily Dose (DDD) per 100 patient-days pada pasien rawat inap di Paviliun Dewasa RS X selama Januari–Juni 2024, serta mengidentifikasi distribusi antibiotik berdasarkan klasifikasi AWaRe (Access, Watch, Reserve) sebagai bagian dari implementasi program Antimicrobial Stewardship (AMS). Penelitian menggunakan rancangan observasional retrospektif terhadap 419 rekam medis pasien yang menerima terapi antibiotik. Penghitungan DDD/100 patient-days mengikuti pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015. Hasil menunjukkan total penggunaan antibiotik sebesar 904,76 DDD dengan total patient-days 1220,15, sehingga diperoleh nilai DDD/100 patient-days sebesar 74,14. Antibiotik kelompok Watch menjadi yang paling banyak digunakan, dengan ceftriaxone injeksi 1 g sebagai agen dengan konsumsi tertinggi (33,30 DDD/100 patient-days), sementara gentamycin injeksi 80 mg/2 mL merupakan yang terendah (0,04 DDD/100 patient-days). Nilai DDD/100 patient-days tersebut mengindikasikan intensitas penggunaan antibiotik yang perlu dicermati, meskipun interpretasinya tetap harus mempertimbangkan kondisi masing-masing rumah sakit karena belum tersedia standar pembanding nasional. Penelitian ini memiliki keterbatasan berupa ketergantungan pada kelengkapan data rekam medis dan belum mengevaluasi kesesuaian terapi terhadap pedoman klinis. Temuan ini dapat menjadi dasar pengembangan strategi AMS untuk mengoptimalkan penggunaan antibiotik dan mengurangi risiko resistensi antimikroba di RS X.
References
World Health Organization. 2023. Antimicrobial resistance: global report on surveillance.
Geneva: WHO.
Radji, M., Fauziyah, S. 2020. Resistensi antibiotik dan implikasinya pada pelayanan kesehatan di Indonesia.
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia. 11(1): 1–10.
WHO Collaborating Centre for Drug Statistics Methodology. 2024. ATC/DDD Index.
Oslo: WHOCC.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2021. Pedoman Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di Rumah Sakit.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.
Nugraheni, R., Suryoputro, A., Astuti, R. 2020. Analisis pola penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap dengan metode DDD di RSUD Semarang.
Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi. 10(2): 122–129.
Susanto, A., Dewi, K. 2021. Kajian penggunaan antibiotik berdasarkan metode ATC/DDD di RSUD Surabaya.
Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia. 8(1): 33–40.
Hutapea, A., Wibowo, S., Putri, D. 2022. Profil penggunaan antibiotik rawat inap di RS pendidikan Depok tahun 2022.
Majalah Kedokteran Indonesia. 72(4): 245–252.
Sari, N., Kurniawan, Y., Lestari, P. 2021. Analisis penggunaan antibiotik di rumah sakit swasta Jawa Tengah dengan metode DDD.
Pharmacon. 10(3): 150–158.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
Jakarta: Kemenkes RI.
World Health Organization, 2015. Global Action Plan on Antimicrobial Resistance.
Geneva: WHO.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Luluk Latifah, Indah Tripujiati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.









